Badak LNG Kritis, Paraktisi: Penanganannya Harus Komprehensif Badak LNG Kritis, Paraktisi: Penanganannya Harus Komprehensif
Jakarta, Situsenergy.com Badak LNG yang pernah menjadi produsen LNG terbesar di Indonesia mengalami kondisi kritis, baik dari sisi pasokan gas maupun dari sisi pembelinya.... Badak LNG Kritis, Paraktisi: Penanganannya Harus Komprehensif

Jakarta, Situsenergy.com

Badak LNG yang pernah menjadi produsen LNG terbesar di Indonesia mengalami kondisi kritis, baik dari sisi pasokan gas maupun dari sisi pembelinya. Turunnya produksi dari Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) di Kalimantan Timur yang selama ini memasok gas alam ke kilang LNG di Kota Bontang itu hanya mampu untuk menjalankan 2 kilang (train) dari 8 kilang yang ada. Padahal itu sudah tertolong oleh produsen baru, yakni ENI yang mengelalola Lapangan Jangkrik, dan Chevron Rapak yang mengelola Lapangan Bangka sejak 2017 yang lalu.

Terkait kondisi amat darurat ini, praktisi minyak dan gas (Migas), Salis S. Aprilian mengatakan bahwa kondisi ini harus ditangani secara serius dan komprehensif, karena menyangkut bisnis hulu dan hilir migas nasional.

“Dengan harga LNG sekarang ini sudah dapat dipastikan bahwa produksi gas dari KKKS di Kalimantan Timur akan tidak ekonomis lagi. Ketidakpastian kontrak pembelian gas dan LNG menyebabkan ketidakpastian harga gas yang cenderung memperlemah posisi tawar. Dan, ini akan menggerus keekonomian sebuah lapangan gas,” kata Salis kepada Situsenergy.com di Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Untuk itu menurut dia, Pemerintah perlu mempertimbangkan stimulus terhadap para produsen gas pemasok kilang LNG dengan memberikan insentif khusus untuk memproduksikan lapangan-lapangan tua yang biayanya juga terus naik sementara produksinya terus menurun.

“Sudah sewajarnya jika Pemerintah mempertimbangkan stimulus terhadap para produsen gas pemasok kilang LNG dengan memberikan insentif khusus. Jika tidak, dikhawatirkan mereka akan menutup (menghentikan operasi) lapangannya dalam waktu yang tidak lama lagi,” tukasnya.

Dari sisi pasokan gas, kata dia, produksi dari KKKS di Kalimantan Timur selama lima tahun belakangan ini sudah sangat menurun. Blok-blok migas yang telah berakhir masa kontraknya dengan perusahaan asing, yang kemudian dikelola oleh Pertamina, sudah lama tidak mendapatkan investasi baru untuk melakukan inovasi teknologi dalam kegiatan eksplorasi-produksi di wilayah kerjanya. “Mereka mengandalkan fasilitas yang ada untuk menguras sisa cadangan sampai kontrak berakhir,” ucapnya.

Dikatakan, Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang mengelola 3 Blok besar, yakni Blok Mahakam (ex-Total), Blok Sanga-Sanga (ex-Vico) dan Blok Kalimantan Timur (ex-Chevron) mengalami kesulitan untuk dapat mempertahankan apalagi meningkatkan produksi gas dari lapangan-lapangan tua yang ada.

“Blok Mahakam yang sekarang dikelola oleh Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berproduksi hanya sekitar 580 mmcfd, sedangkan Blok Sanga-sanga, yang sekarang dikelola PHSS (Pertamina Hulu Sanga-sanga) berproduksi sekitar 75 mmscd, dan Blok Kalimantan Timur yang dikelola oleh PHKT (Pertamina Hulu Kalimantan Timur) berproduksi sekitar 5 mmscfd,” paparnya.

“Dengan biaya produksi yang sudah ditekan sedemikian efisien masih belum mampu menutup keekonomiannya, karena harga gas dan LNG dunia memang sedang dalam titik nadir. Berada di titik paling rendah dalam dua dekade ini,” tambah Salis.

Minta Insentif Khusus
Sebagai BUMN yang sudah menjadi mayoritas pemegang otorisasi kegiatan hulu-hilir di bisnis gas dan LNG, lanjut Salis, Pertamina memegang peran yang sangat penting. Jadi bukan sesuatu yang tabu jika Pertamina mengajukan kemudahan-kemudahan dalam bentuk insentif khusus kepada Pemerintah agar operasi hulu dan hilir LNG ini dapat bertahan.

“Dan yang lebih penting lagi, Pemerintah dapat merespon dengan mempertimbangkan betul multiplier effect dari kegiatan bisnis ini, bukan hanya urusan aturan kebijakan fiskal, seperti production sharing, cost recovery, gross-split, pajak-pajak, dan lain-lain,” kata mantan pimpinan di sejumlah anak usaha Pertamina ini.

“Dengan operasi hulu dan hilir yang terus dapat dipertahankan akan melibatkan banyak pemangku kepentingan (stakeholders) bisnis gas dan LNG yang mampu menggeliatkan ekonomi, baik di sekitar daerah operasi migas maupun di tingkat nasional,” tambah Salis.(Adi)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *