Banyak Bahan Baku, Investor Asal Jerman Bidik Bisnis Pelumas Berbasis CPO Di Indonesia Banyak Bahan Baku, Investor Asal Jerman Bidik Bisnis Pelumas Berbasis CPO Di Indonesia
Jakarta, Situsenergy.com Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Abdul Rochim, mengatakan Indonesia masih dianggap negara yang menarik bagi... Banyak Bahan Baku, Investor Asal Jerman Bidik Bisnis Pelumas Berbasis CPO Di Indonesia

Jakarta, Situsenergy.com

Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Abdul Rochim, mengatakan Indonesia masih dianggap negara yang menarik bagi investor. Sebagai buktinya Kemenperin telah menerima komitmen dari perusahaan asal Jerman yang akan mengembangkan industri berbasis minyak dengan menggunakan bahan baku minyak sawit mentah (CPO). Hasil produksinya ini nantinya akan diperuntukan bagai kebutuhan industri pelumas di dalam negeri. Dengan begitu diharapkan bisa menekan bahan baku impor.

Komitmen investor Jerman tersebut, dinilai Abdul Rochim sebagai kesempatan emas. Pasalnya pemerintah saat ini tengah menggalakkan program mandatori biodiesel 20 perse (B20), yang akan ditingkatkan menjadi B30 pada awal tahun 2020 dan B50 pada tahun 2021. Oleh karenanya Kemenperin mengapresiasi komitmen investor asal Jerman tersebut.

“Apalagi, Indonesia punya bahan baku CPO yang cukup banyak. Ini bisa kita tingkatkan nilai tambahnya melalui hilirisasi industri,” jelas Rochim di kantornya, Kemenperin Jakarta, Selasa (10/9).

Untuk potensi industri pelumas di dalam negeri, lanjut Abdul Rochim, saat ini terdapat 44 perusahaan produsen pelumas dengan jumlah produksi mencapai 908.360 kilo liter per tahun, yang terdiri dari pelumas otomotif sebesar 781.190 kilo liter per tahun dan pelumas industri 127.170 kilo liter per tahun. Sementara, untuk penyerapan tenaga kerja langsung di industri pelumas pada tahun 2018 sebanyak 3.157 orang, dengan ditambah tenaga kerja dari 140 perusahaan importir dan 580 perusahaan distributor pelumas, menjadikan total tenaga kerja di industri tersebut mencapai 4.898 orang.

Rochim menegaskan, Kemenperin terus berupaya memacu daya saing industri melalui langkah kebijakan strategis yang berfokus pada memperkuat struktur industri, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Selain itu, perlu dilakukan promosi industri prioritas serta pengembangan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis digital untuk menciptakan nilai tambah tinggi di dalam negeri seiring dengan penerapan industri 4.0.

“Guna mendorong transformasi tersebut, kami telah menyiapkan berbagai kebijakan yang dapat memberikan stimulus agar industri kita bisa segera menerapkan transformasi industri 4.0,” imbuhnya.

Untuk mendorong keterlibatan dunia industri dalam penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas, pemerintah telah memfasilitasi pemberian super deduction tax. Ketentuan ini tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan.

“Insentif fiskal itu akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi dengan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 perse dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan praktik kerja, pemagangan, atau pembelajaran,” terangnya.

Selain itu, masih Abdul Rochim, pemerintah menjanjikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan oleh industri yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan inovasi. Stimulus fiskal ini diharapkan dapat mendorong industri dalam negeri untuk terus meningkatkan daya saing atas produk-produknya.

“Penerapan super deduction tax ini selain melengkapi insentif fiskal tax allowance dan tax holiday, akan mengakselerasi industri manufaktur nasional agar siap menuju revolusi industri 4.0,” tandas Abd Rochim. (DIN)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *