EW: Penurunan Subsidi Solar Bisa Picu Kenaikan Harga BBM EW: Penurunan Subsidi Solar Bisa Picu Kenaikan Harga BBM
Jakarta, Situsenergy.com Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, penurunan subsidi energi terutama terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan LPG ke depan bisa saja... EW: Penurunan Subsidi Solar Bisa Picu Kenaikan Harga BBM

Jakarta, Situsenergy.com

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, penurunan subsidi energi terutama terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan LPG ke depan bisa saja menyebabkan pe,erintah menaikkan harga BBM dan LPG.

“Terkait penurunan subsidi energi bisa saja ke depan, jika memang kondisi sosial politik memungkinkan, pemerintah akan menaikan harga BBM dan LPG 3 kg tersebut,” kata Mamit saat dihubungi Situsenergy.com di Jakarta, Rabu (21/8).

Sebelumnya , Pemerintah telah memutuskan untuk mengurangi subsidi Solar subsidi menjadi Rp 1.000 per liter dari sebelumnya Rp 2.000 per liter. Dengan demikian, jika nanti harga minyak dunia mengalami kenaikan, dan dengan subsidi sebesar  Rp 1.000 tidak mencapai harga keekonomian maka seharusnya harga dinaikan. “Jangan sampai nanti Pertamina harus menanggungnya kembali,” ucapnya.

Selain itu, kata dia  karena penggunaan Solar subsidi ini tidak dibatasi telah menyebabkan setiap tahun kuota yang ditetapkan Pemerintah selalu jebol. “Sedangkan untuk Premium dan Pertalite saya kira sudah bukan barang subsidi, hanya saja memang kedua produk tersebut tidak boleh dinaikan oleh pemerintah. Karena konsekwensinya adalah pemerintah memberikan dana kompensasi kepada Pertamina,” paparnya.

Sementara untuk LPG 3 kg, menurut dia, sudah seharusnya dinaikan mengingat disparitas harga dengan LPG non subsidi sangat jauh. Disamping itu juga, sudah lama LPG 3 kg ini tidak pernah dinaikan dan selalu membebani keuangan Pertamina dan pemerintah pastinya. “Apalagi saat ini penggunaan LPG 3 kg tidak ada batasan sama sekali. Jadi memang sudah sewajarnya jika harga LPG 3 kg ini dinaikkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 menurun karena dipengaruhi acuan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan harga komoditas.

“Subsidi dalam APBN ini basisnya adalah volume, dikaitkan dengan harga. Harga dipengaruhi nilai tukar dan harga komoditas,” ucap Sri Mulyani, Selasa (20/8).

Dalam RAPBN 2020, subsidi energi turun menjadi Rp137,5 triliun dari prospek 2019 yang mencapai Rp142,6 triliun. Subsidi ini terdiri dari listrik, serta bahan bakar minyak (BBM) dan liquified Petroleum gas (LPG).

Penurunan terutama terjadi pada subsidi BBM dan LPG dari Rp90,3 triliun menjadi Rp75,3 triliun. Sementara itu, listrik dinaikkan menjadi Rp75,3 triliun dari sebelumnya Rp90,3 triliun.

Adapun, nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2020 ditetapkan di angka Rp14.400 per dolar AS. Posisinya lebih kuat dibanding asumsi makro dalam APBN 2019 yang dipatok sampai Rp15 ribu per dolar AS.

Kendati begitu, Sri Mulyani menyebut akan mengamati perubahan rupiah dan harga komoditas ke depannya. Hal ini untuk menentukan apakah perlu perubahan kebijakan terkait subsidi energi. “Dari sisi harga dinamikanya mungkin tidak sama persis dengan asumsinya,” ucapnya.(adi)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *