EWI : Digitalisasi Pertamina Jangan Sampai Besar Pasak Daripada Tiang EWI : Digitalisasi Pertamina Jangan Sampai Besar Pasak Daripada Tiang
Jakarta, Situsenergy.com Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahean menilai, program digitalisasi yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) merupakan terobosan yang baik untuk meningkatkan... EWI : Digitalisasi Pertamina Jangan Sampai Besar Pasak Daripada Tiang

Jakarta, Situsenergy.com

Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahean menilai, program digitalisasi yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) merupakan terobosan yang baik untuk meningkatkan transparansi bisnis perusahaan, disamping juga merupakan upaya yang baik untuk melakukan monitoring terhadap proses bisnis yang dijalankan perusahaan, terlebih ketika digitalisasi sudah dilakukan mulai dari downstream, midstream, upstream hingga di Corporate.

Namun demikian, ada satu hal yang digarisbawahi oleh Ferdinand, yakni manfaat yang dihasilkan oleh program digitalisasi tersebut, harus jauh lebih besar ketimbang investasi besar yang dikeluarkan Pertamina untuk melakukan revolusi digital tersebut.

“Tapi kita harus melihat dan menghitung besar mamfaat digitalisasi ini apakah sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan oleh Pertamina. Disinilah titik yang jadi pertanyaan apakah proyek ini manfaatnya sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan? Dan ini semua akan kita ketahui nanti setelah berjalan. Harapan kita jangan sampai proyek ini merugikan Pertamina kedepan dan tidak memberi manfaat besar,” ujar Ferdinand kepada Situsenergy.com, saat dihubungi pada Rabu (20/1/2021).

“Intinya jangan sampai hanya untuk urusan laporan data real time, kita menghabiskan anggaran yang besar tapi tak sebanding dengan manfaat,” imbuh Ferdinand.

Namun demikian, sejauh ini diakuinya proses digitalisasi terhadap 5.518 SPBU Se-Indonesia yang dilakukan Pertamina di sepanjang 2020, memang memberikan manfaat bagi perusahaan, termasuk juga terhadap masyarakat pengguna jasa Pertamina.

Jika dahulu untuk melakukan monitoring terkait hal-hal di lapangan, mulai dari kondisi alur distribusi, kebutuhan riil di lapangan hingga status cadangan dan produksi minyak Pertamina membutuhkan waktu lama, saat ini seluruh proses tersebut bisa di monitoring secara real time, sehingga pembuat kebijakan bisa melakukan analisa dengan tepat, agar efektifitas bisnis terjaga.

“Namun demikian sekali lagi saya katakan bahwa proyek digitalisasi ini prinsipnya bagus, tujuannya bagus, harus didukung karena ini bagian dari modernisasi operasi. Tapi ya itu tadi, kita kaji biayanya apakah sebanding dengan manfaat agar tidak buang-buang uang,” pungkasnya.

Setelah proyek digitalisasi di 5.518 SPBU rampung pada akhir 2020, PT Pertamina (Persero) terus melanjutkan program digitalisasi dengan mengembangkan sistem baru yakni Autoplenishment dan Prepurchase di seluruh SPBU. Sistem baru ini tergambar dalam Command Operation Center Digitalisasi di Telkom Legok, Tangerang, Banten.

Dalam penjelasannya, Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa Transformasi Digital dilakukan diseluruh proses bisnis inti di Pertamina, baik dari sisi upstream, midstream, downstream, maupun corporate.

Pada sisi upstream, Upstream Production Optimization sudah Go Live pada 10 Desember tahun lalu, sisi midstream atau refinery sudah dilaksanakan predictive maintenance di Refinery Unit VI Balongan untuk menjaga kehandalan kilang dan stok, dan dalam sisi corporate adanya integrasi, join operational dashboard dari Hulu sampai Hilir, Digital Procurement dan Office Automation dengan menggunakan sistem P-Office. (SNU/RIF)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *