Harga Minyak Dunia Cenderung Variatif, Menyusul Ketegangan AS-Tiongkok Dan Gelombang Protes Di Amerika Harga Minyak Dunia Cenderung Variatif, Menyusul Ketegangan AS-Tiongkok Dan Gelombang Protes Di Amerika
New York, SitusEnergy Harga minyak berjangka cenderung variatif, menyusul meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok yang membebani sentimen. Namun demikian, harga minyak juga mendapat dukungan dari laporan... Harga Minyak Dunia Cenderung Variatif, Menyusul Ketegangan AS-Tiongkok Dan Gelombang Protes Di Amerika

New York, SitusEnergy

Harga minyak berjangka cenderung variatif, menyusul meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok yang membebani sentimen. Namun demikian, harga minyak juga mendapat dukungan dari laporan bahwa OPEC dan Rusia hampir mencapai kesepakatan memperpanjang pemangkasan produksi.

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 48 sen, atau 1,3%, menjadi US$38,32 per barel, demikian laporan  Reuters,  di New York, Senin (1/6/2020) atau Selasa (2/6/2020) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melemah 5 sen, atau 0,1%, menjadi US$35,44 per barel.

Harga itu juga mendapat dukungan setelah berita bahwa Organisasi Negara Eksportir Minyak dan Rusia, yang dikenal sebagai OPEC +, bergerak lebih dekat menuju kompromi pada perpanjangan pemotongan produksi minyak dan sedang membahas penambahan pemangkasan satu hingga dua bulan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC bergilir, mengusulkan agar OPEC + mengadakan pertemuan pada 4 Juni daripada yang direncanakan sebelumnya 9-10 Juni.

Cadangan di Cushing, Oklahoma turun menjadi 54,3 juta barel dalam sepekan hingga 29 Mei, kata para pedagang, mengutip laporan Genscape, Senin.

Sementara itu, Bank of America, Senin, mengatakan mereka percaya bahwa penutupan fasilitas minyak di Amerika Utara mencapai puncaknya pada Mei.

“Harga minyak menguat ke tingkat di mana penutupan tersebut tidak lagi masuk akal dan bakal mendorong produsen untuk segera mengembalikan produksi,” menurut laporan BofA Global Research.

Namun, investor menjadi lebih berhati-hati, setelah China memperingatkan pembalasan atas langkah Amerika di Hong Kong.

Tiongkok meminta BUMN -nya untuk menghentikan pembelian kedelai dan babi dari Amerika Serikat, kata dua narasumber, setelah Washington mengatakan akan menghilangkan perlakuan khusus AS bagi Hong Kong untuk menghukum Beijing.

“Kemungkinan meningkatnya ketegangan memang menimbulkan risiko bagi kenaikan harga minyak baru-baru ini,” kata Harry Tchilinguirian, Kepala Riset Komoditas BNP Paribas.

Kekhawatiran ekonomi dan pertanyaan tentang pemulihan permintaan bahan bakar juga menekan minyak berjangka. Data manufaktur yang dirilis Senin menunjukkan pabrik di Asia dan Eropa sedang berjuang ketika penguncian yang diberlakukan pemerintah memukul permintaan. (SNU/rif)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *