Kementerian ESDM Yakin PNBP Sektor Minerba Bisa Tercapai Meski Ada Pandemi Kementerian ESDM Yakin PNBP Sektor Minerba Bisa Tercapai Meski Ada Pandemi
Jakarta, Situsenergy.com Kementerian ESDM menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak cukup signifikan dari akibat pandemi covid-19 khususnya bagi pendapatan yang bersumber... Kementerian ESDM Yakin PNBP Sektor Minerba Bisa Tercapai Meski Ada Pandemi

Jakarta, Situsenergy.com

Kementerian ESDM menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak cukup signifikan dari akibat pandemi covid-19 khususnya bagi pendapatan yang bersumber dari sektor mineral dan batubara (minerba). Hal itu terjadi akibat permintaan ekspor produk tambang seperti batubara dan lainnya di pasar global anjlok.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Sujatmiko, mengatakan sejak pandemi covid-19, permintaan produk tambang khususnya batubara di berbagai negara tujuan utama ekspor menurun. Selama ini China, India, Korea Selatan dan Jepang menjadi negara importir terbesar bagi Indonesia. Namun akibat pembatasan sosial di negara – negara demi mencegah penyebaran virus mendorong produksi sektor industri menurun. Hal itu berimbas pada permintaan batubara. Secara otomatis penurunan permintaan tersebut membuat pundi – pundi devisa negara yang berasal dari sektor tambang berpotensi turun.

Sujatmiko menerangkan bahwa dalam target yang ditetapkan di awal sebelum adanya covid-19, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba sebesar Rp35,93 triliun. Adapun realisasi PNBP sektor minerba termasuk yang dihasilkan dari batubara mencapai Rp14,55 triliun per 5 Juni 2020.

“PNBP kita sampai dengan Juni kemarin (5 Juni 2020) baru sekitar 40,50 persen (dari target), kita masih optimis sampai akhir tahun bisa tercapai walaupun ada pandemi,” ujar Sujatmiko dalam diskusi secara virtual, Selasa (30/6).

Dijelaskannya, untuk memastikan target PNBP sektor minerba tercapai, pemerintah akan terus berupaya melakukan penjajakan pasar ekspor di negara-negara non tradisional. Pasalnya di negara utama seperti China, Korea Selatan, Jepang dan India lebih mengutamakan produksi tambang domestik. Selain itu masih adanya kebijakan pembatasan sosial sehingga akan sulit bagi Indonesia apabila masih tetap mengandalkan ekspor produk minerba khususnya batubara ke negara- negara tersebut.

“Kita aktif melakukan penjajakan pasar ekspor batubara ke negara berkembang lainnya di luar pasar tradisional seperti ke Bangladesh, Vietnam dan Pakistan. Kemudian kita lakukan efisiensi rantai suplai batubara negara importir serta melakukan direct contract atau direct shipping,” pungkasnya. (DIN/rif)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *