Penundaan Kenaikan Harga Gas Industry Bisa Mengganggu Keuangan PT PGN Penundaan Kenaikan Harga Gas Industry Bisa Mengganggu Keuangan PT PGN
Jakarta, situsenergy.com PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN) akhirnya menyerah juga dengan menunda juga kenaikan harga gas untuk industri. Seharusnya,pertanggal 1 Oktober 2019... Penundaan Kenaikan Harga Gas Industry Bisa Mengganggu Keuangan PT PGN

Jakarta, situsenergy.com

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN) akhirnya menyerah juga dengan menunda juga kenaikan harga gas untuk industri. Seharusnya,pertanggal 1 Oktober 2019 harga PT PGN menyesuaikan dengan tarif baru. Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menyayangkan menyerahnya PT PGN kepada KADIN.

”Saya sangat tidak setuju dengan penundaan kenaikan harga gas untuk industri oleh PT PGN ini. Seharusnya PT PGN tetap melanjutkan sesuai dengan jadwal kenaikan tersebut mengingat sejak tahun 2013 mereka tidak menaikan harga gas industri.”jelas Mamit dalam keterangan tertulisnya.

Mamit juga menyampaikan bahwa semester I-2019 laba PT PGN 69.87% menjadi US$54.04 juta jika dibandingkan semester pertama tahun lalu sebesar US$ 179.39 juta.”Dengan kondisi penurunan tersebut, maka sudah seharusnya harga gas industri dinaikan agar keuangan PT PGN tidak terganggu dan memperlambat investasi mereka dalam membangun infrastruktur jaringan gas bumi,”lanjut Mamit Setiawan.

Mamit menjelaskan bahwa saat ini harga gas bumi PT PGN masih jauh lebih murah dibandingkan dengan negara lain.”Sebagai contoh harga gas di Singapore sebesar US$ 12.5-US$14.5/MMBtu dan di China sebesar US$ 15 per MMBtu sedangkan harga gas di Indonesia saat ini sebesar US$ 8 – US$ 10/MMBtu.Memang jika dibandingkan dengan Malaysia yang harga gasnya sebesar US$ 7.5-US$ 8.21/MMBtu kita lebih mahal karena pemerintah  Malaysia memberikan subsidi untuk harga gas industry tersebut” disampaikan Mamit.

Perlu diingat juga, bahwa harga gas sangat dipengaruhi oleh harga gas di Hulu dimana merupakan 71% dari komponen harga gas di hilir.”Saat ini, harga beli gas PT PGN di hulu adalah sebesar US$ 6- US$ 8 per MMBtu. Belum lagi investasi yang dilakukan oleh PT PGN untuk membangun pipa transmisi dan distrubusi yang saat ini mencapai hampir 10.000 km untuk sampai ke end user. Jadi, dengan beban yang begitu besar saya kira PT PGN harus tetap melanjutkan kenaikan harga gas industry ini sesuai dengan yang direncanakan” tambah Mamit kembali.

Dia juga mengkhawatirkan batalnya kenaikan ini karena ada intervensi dan juga muatan politisnya. “ PT PGN merupakan salah satu BUMN yang mendapatkan penugasan dari pemerintah dalam menjalankan fungsi Public Service Obligation (PSO) dengan menyalurkan gas bumi ke rumah tangga dengan harga di bawah ke ekonomian dan mereka harus menanggung beban juga kekurangan tersebut. Jadi, janganlah PT PGN dibebani kembali oleh penundaan kenaikan ini”lanjut Mamit Setiawan.

Mamit khawatir, dengan beban yang begitu besar bisa menyebabkan PT PGN bisa terus menurun keuntungannya dan akhirnya pembangunan infrastruktur gas bumi tidak mengalami kenaikan.”Dengan mandeknya pembangunan infrastruktur maka target bauran energy sebesar 22% pada tahun 2025 bisa tidak tercapai dimana jaringan gas bumi merupakan salah satu instrument untuk mencapai target tersebut” pungkas Mamit Setiawan.[ebs]

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *