Pertamina Rugi 11 T? Tiada Satupun Yang Mampu Berenang Diatas Tsunami Covid Pertamina Rugi 11 T? Tiada Satupun Yang Mampu Berenang Diatas Tsunami Covid
Oleh : Ferdinand Hutahaean Dir. Eksekutif EWI Rilis Pertamina terhadap Laporan Keuangan yang menyatakan mengalami kerugian 11 T sontak menjadi perbincangan publik. Beragam pendapat... Pertamina Rugi 11 T? Tiada Satupun Yang Mampu Berenang Diatas Tsunami Covid

Oleh : Ferdinand Hutahaean

Dir. Eksekutif EWI

Rilis Pertamina terhadap Laporan Keuangan yang menyatakan mengalami kerugian 11 T sontak menjadi perbincangan publik. Beragam pendapat berhamburan mulai dari para ahli, pengamat dan juga masyarakat yang mungkin paham dengan Pertamina atau juga tak paham sama sekali tapi hanya ingin melampiaskan kemarahan dan kebencian kepada pemerintah. Saat ini, tidak sedikit warga masyarakat kita yang justru senang kalau mendengar kabar penurunan capaian pemerintah, karena hal ini bisa dijadikan saluran pelampiasan kebencian dengan segala macam narasi bahkan caci maki.

Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan hidup global bahkan merubah tatanan negara-negara dunia disemua lini. Ekonomi, sosial, budaya dan politik, tidak ada satupun siai kehidupan yang luput dari perubahan oleh karena covid-19. Bahkan seorang ayah tak bisa langsung memeluk putra putrinya selepas pulang dari pekerjaan sebelum bersih-bersih. Ruang kecil kita dalam hidup pun berubah.

Begitu jugalah negara di dunia dan juga dunia usaha. Keduanya sama-sama mengalami tekanan besar dari dampak covid-19. Negara besar dan maju ekonominya bahkan sudah lebih dulu mengumumkan resesi meski belum krisis. Ada beban besar yang harus ditanggung tapi nihil pendapatan, akhirnya kinerja ekonomi menurun dan minus. Begitu perusahaan-perusahaan mulai dari skala besar hingga kecil. Yang kecil bahkan sudah berguguran satu persatu, sementara yang besar terus berjuang agar tak gugur. Sekedar bertahan saja sudah capaian bagus, untuk positif sulit dicapai, minus menjadi terlihat bagus sepanjang minusnya tidak terlalu jauh. Begitulah dunia usaha menghadapi kondisi akibat serangan mematikan covid-19.

Lantas apa yang salah dari meruginya Pertamina hingga 11 T? Bukankah itu menjadi minus yang tidak mengecewakan? Minus yang masih menyimpan rasa optimes? Covid-19 yang membuat manusia berhenti berbulan-bulan adalah penyebab utama minus ini, bukan karena kinerja yang buruk. Penjualan dan pendapat menjadi turun drastis bahkan pernah mencapai 60% dari biasanya. Luar biasa covid menghancurkan semua lini kehidupan. Maka ketika Pertamina mengumumkan kerugian, saya secara pribadi memakluminya dan merasa wajar. Tiada satupun didunia ini yang mampu berenang atau berselancar diatas tsunami. Tapi diatas ombak besar peselancar menikmatinya.

Apakah Direksi dan Komisaris Pertamina layak disebut buruk kinerjanya? Menurut saya tidak layak, karena justru capaian kinerja yang tidak mengorbankan pekerja dan masih mampu membantu negara menanggulangi covid, memberi bantuan ke rakyat adalah sebuah prestasi ditengah tsunami. Hampir seluruh perusahaan oil and gas besar dunia mengalaminya. Maka ini menjadi hal yang wajar dan terjadi bukan karena buruknya kinerja Direksi apalagi harus menyalahkan Ahok yang seorang Komisaris.

Kita dukung Pertamina segera bangkit kembali dan positif hasilnya setelah New Normal berjalan. Inilah ujian kinerja bagi Direksi, Komisaris dan Karyawan. Jika kembali positif akhir tahun, maka rugi 11 T itu menjadi wajar dan lumrah ditengah tsunami covid.[•]

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *